

Awal
inilah lembar sebuah kehidupan yang ingin kukisah padamu
sejarah sederhana tentang penciptaan
berikut deru liku dan harapan
jika bisa, ingin kucerita saja lewat simfoni, namun ia tak cukup menafsir
kekuatan, ketekunan pun keindahan para penciptaku kala itu
yang gairah bengalnya anugerahiku untuk lahir
betapa kini aku bagai gadis molek cantik
berdiri di panggung dunia
bukan hanya kumpulan tanah dan batu
memecah pelan di bawah matari terik
aku begitu hidup,
karena pikir manusia hidupkanku
hingga tercipta tarian ini dalam diam
maka mari berjalan,
di antara keteguhan musim padi, hingga kedalaman hutan muda
beserta kebaikan alam
sebab kubangun rumah ini penuh puisi,
dimana kau dapat bertandang
dimana ku bisa menebar sayang
bukalah mata dan pikirmu
aku mengundangmu

Semesta Padi
mari berjalan di hangat canggu tua,
dimana angin berbau padi dan ombak
musim kehangatan dari barat telah datang kemari,
membawa kapal dan nahkodanya berlabuh di perutku
hinggap di rasa, kami bagai putih salju
berbaring di bawah bintang dalam kubah raksasa ini
kemudian saling menghidupi, agar panjang usia masing-masing
sang tani adalah pangeranku,
sementara langit menjagai desah keringatnya.
sesaat lalu bayang-bayang membangunkanku dari semesta
sungai benamkanku makin ke dalam
dedaunan lingkarkan akarnya ke tubuhku
Ia, sang ibu membaptisku di kelahiran ulang
sebab telah cukup tugasku kala ini
yang dijanjikan akan datang, menjalani takdirnya di tanahku
kala itu, penciptaan telah diijinkan.

Lagu Anak Bumi
malam ini perkenankan kucium jari Mu
sebab ibu bilang, Kau yang melahirkanku lewat rahimnya.
tubuhku seperti tiang, dengan bendera sebagai jubahnya.
ibu bilang, dengan ini manusia menghormatiku
malam ini izinkan aku memujaMu, seperti moyangku dulu berlutut
pada matahari atau keabadian batu.
maka kutengadahkan langit, hingga ku jauh dari kelaparan senja.
tak ingin mati dengan wajah gesang.
Mimpi Tuan Tanah
aku ingin tidur, sedikit
sebab lelah menjadi permata
di dunia tanpa lengang
dan tak habis berpikir lebih pintar
agar saat aku bangun nantinya
ada suatu kehendak
terbentuk dari matahari dan
bening keinginan di kepalaku
hingga kuacungkan tanganku
ke arah pemilik tanah
yang ingin kumiliki
sisi yang demikian terang
yang paginya ditempeli embun
lalu perlahan menghangat
yang aku bisa tidur dalam kabin rumputnya
sembari tetap menghitung bintang-bintang

Kedatangan
aku bisa mendengar langkahmu, teman
di jalan setapak yang kutempa
untuk mereka, anak-anak yang sering berdoa padaku
aku tahu segala rahasia
dan yang tengah kau cari
kusentuh kau dengan nafasku,
kuhadirkan ketelanjangan dan kejujuran
matahari yang hangat, dan malam yang beku
segenap tarian di keluasan ruang
telah terbacakah?
lalu kutangkap matamu
hingga kita bersetubuh sejenak
dalam kerapuhan kuberi kekuatan
telah yakinkah kau?
maka kutetapkan saja, untuk mengkutimu
mempercayakan arah angin dan matahari, dan semua hidangan ini
kuberikan padamu, kesempatan



Sketsa 1: Titik Mula
hanya pria yang teguh yang mampu,
yang pikirnya begitu muda dalam kebijaksanaan usia
ia temanku, yang kupercaya untuk mencipta
hingga hatiku berdegup-degup dibuatnya
apa yang kan datang, dalam kelahiranku berikutnya?
dalam titik, garis dan bidang-bidang
yang berkitaran

“satu garis kutoreh jadi aksis, antara pandangku dengan keberadaanmu
dua lengkung bertemu membuka ruang dari kedatangan
hingga kau lihat keluasan hutan muda, yang merentang tangannya padamu
bawa kakimu melangkah ke lingkar tengah, ruang pertemuan
dua garis melingkupi pandangmu
mengantarmu pada sekuen harmoni
seperti lajur dari bawah kakimu ke arah tingginya pikir
karena begitu luas dan dalamnya sekeliling
satu garis untuk menikmatimu
dari tempat yang semestinya
lalu biarkan keseluruhannya tersembunyi
agar satu ia dengan kebesaranNya”
Sketsa 2: Benang Merah
bagaimana kabarmu, kawan?
lihat aku masih menari disini
aku menghentak-hentak mengikut gerakmu
mengalirlah, hingga tak terbendung dan tumpah
bisa kulihat perjalanan itu
yang membingkai keadaan
ke dalam ruang

bisa kurasa, naskah kejadian yang kau lukis di perutku
jembatan pengantar menuju kelegaan
dan kenyamanan rumah
dimana satu keluarga dan teman bisa bercerita
di bawah langit,
dimana kau biarkanku jadi kubah dan selimut
yang dipandangi dan memeluk mereka
ruang tak berdinding, hanya berbingkai
ruang yang mendongak langit, namun menghormati
dimana bisa kutarikan bayang-bayang cahaya
rumahku terbuka untuk melihat
rumahku terbuka untuk mendengar
rasa-rasakanlah kebebasan pikir
Sketsa 3: Fragmen Ruang
aku tumbuh di musim yang tropik
yang hangat gemerlap
di tengah gerimis dan lagu anak
sungguh kubutuh ruang tidur beratap

maka ia kawanku ini, menari lagi
lewat jarinya, menghadirkan wujud
membuatku tergambarkan di mata
satu untuk ungkapan selamat datang
yang mengantarmu ke rumah, mempertemukan cahaya
satu yang membingkai pandangmu
menggoda kagum di antara kerendahatian,
merefleksikan semua ruang di sekeliling
dan ruang-ruang kecil
tempatmu berjalan lewat

ada anjungan pengantar tidur
katanya sembari mimpi,
mari jujur pada nurani
mari berdekap dengan diri
sembari mengagumi ketelanjanganmu
lalu bertemulah klimaks
tempat menghening sesungguhnya
demikian kawanku mengabadikan segala khayal,
hingga sang bayi terlahir
pun jadi milik semesta

Instalasi Tiga Dimensi
bentuk-bentuk hadir
mulai bersama warna dan memberi rasa
tiada lagi mencari, hanya melengkapi
agar ia menjadi sosok, bukan goresan
aku bermain bersama kabel-kabel digital
alam artifisial
bersama matahari dan ukuran waktu
mencoba jadikannya kekal
sebelum adanya batasan eksplorasi
mencari cara membangun semuanya
dari dasar,
rumahku telah berdiri
hingga kau bisa melihatnya dari segala pandang
when imagination is free,
knowledge and know how will follow

Spektrum Melodi

mari nyanyi tentang pelangi
yang keping-kepingnya ingin kupetik,
kutanam di rumah, memainkannya dalam liturgy
dan bila kupilah-pilah
mungkin yang menghangatkan, atau membuat sejuk
yang kekuatannya merefleksi teka-teki alam
matahari siang bulan malam, jatuh di tubuhnya
sebab warna mereka adalah energi
yang menguasaimu atas ruang
bahkan menyelimuti pikir
ia pun menjadi gairah akan tanah, air, udara
yang menentukan kehendakmu, seketika
maka kini biarlah warna-warna ini
yang mengatasi binari
biar menyatu ia di atas semua bidang
hingga kau tersenyum penuh pesona
saat sinarnya jatuh di pantul cahaya
pada segala musim, segala ruang

Elemen Penciptaan
yang menjadi tiang-tiang itu, temanku
adalah kayu tua
yang menahan beban untuk kita
dan menanda cuaca di tanah ini
batu-batu itu
berasal dari kedalaman
jadi biar warna dan rasanya saja yang bicara padamu
karena bila kupaksakan gambaranku
maka ia tak kan sampai ke hatimu
lalu ditiap jendela dan pintu
kugantungkan dinding yang bening
biar alam bisa melukis di kanvasnya
melembutkan mata kita penuh suka
di tempatmu menginjak,
kuberi satu yang lembut
dan berkilau, hingga kau rasa berjalan di pualam
tiada derak bergema
hingga kau dapat terlupa
tengah di bawah langit
atau berhangat dalam ruangkah,
mari sentuh tiap fragmen tubuhku, teman
meliuk bagai relief warna yang dicipta artisku
Sketsa 4: Jalan Menuju
aku membuat gambar ini
agar kita bisa membangunnya
tingkat demi tingkat
dan supaya lakon yang lain
bisa mulai menaruh hitungannya
lewat harga dan kubik
jadi kubuat hingga sekecil-kecilnya,
sungguh, demi pekerja itu
menjembatani gagasan dan tindakan
kita berjalan, mengukur panjang
atau mendaki mencari tinggi
lalu nanti kubuat drama,
mengatur fragmen masing-masing
sebab bahwa semua harus tercapai, dan terlihat
adalah untuk kemudahan
hingga rancangan tersajikan, dan terbaca mereka










