About my arts

The idea my art works are from subculture theme in wide point of view, I interested in non mainstreams way of thinking specially on my social and culture background as a Balinese and from that wide frame of idea I made it as an art works like paintings, installations, performance art, object art and underground music.
I believe in this world there’s no death line accept death it self, if we try the best we can in this sort life times with “weapons” that we have. I use arts as a “weapons” it mean if I am a visual artist, I will use my talent that I have to share with other as much as I can. If we are musicians, use your music to change the peoples point of view to start make a change. If we are a journalist, write the truth, express the real fact and criticism all the problems. So for all people with all their “weapons” we can make a change for better future for us and for our next generation.
As a part of the visual art scene here in Bali and Indonesia in common, I already have a long list of activity and lot of idea and project waiting to realize in the future.
As a member of the local underground band Geekssmile I express my self in a different way of arts, for me, as long as it purpose and content of my arts are visualize I will do any kind of possibility of art.
making painting process

making painting process
at the gig with my band geekssmile

photo session for our new album

I believe in this world there’s no death line accept death it self, if we try the best we can in this sort life times with “weapons” that we have. I use arts as a “weapons” it mean if I am a visual artist, I will use my talent that I have to share with other as much as I can. If we are musicians, use your music to change the peoples point of view to start make a change. If we are a journalist, write the truth, express the real fact and criticism all the problems. So for all people with all their “weapons” we can make a change for better future for us and for our next generation.
my solo exhibition 2012 FRESH FROM THE OVEN (SEGAR DAN RENYAH DARI PENGGORENGAN)
my island of gods 120x140cm acrylic paint on canvas 2011
Dialektika Kebohongan dan Kenyataan
Oleh : Wayan ‘Jengki’ Sunarta *
Sejak jaman Hindia Belanda hingga kini, propaganda industri pariwisata Bali telah melahirkan banyak kebohongan. Kebohongan yang disusun dengan rekayasa yang sangat sistematis melalui berbagai pencitraan Bali, di antaranya jargon Pulau Surga, Surga Terakhir, Pulau Dewata. Kebohongan itu kemudian dilembagakan dan disebar oleh industri pariwisata berkonspirasi dengan perangkat-perangkat lain, seperti media massa, lembaga pemerintah, adat dan agama. Kebohongan itu pada akhirnya membangun persepsi, memanipulasi alam pikiran (kognisi), mempengaruhi perilaku, untuk responsif terhadap target-target yang diinginkan oleh industri pariwisata.
Propaganda industri pariwisata Bali yang dirintis sejak awal abad ke-19, telah mampu menyatukan persepsi masyarakat Bali untuk melestarikan dan mempertahankan citra Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata terpenting di dunia. Citra-citra Bali yang Mooi terus menerus dipelihara di benak banyak orang. Namun, ironisnya, pada saat bersamaan terjadi perusakan dan penghancuran yang sistematis terhadap elemen-elemen yang dijual oleh industri pariwisata itu sendiri, seperti perusakan terhadap seni dan budaya, serta penghancuran alam.
Kebohongan dan kenyataan saling tumpang tindih, merebut ruang kesadaran kita. Citra Bali sebagai Pulau Surga, misalnya, merupakan suatu bentuk kebohongan yang terus dipelihara. Sementara itu, kenyataan yang terjadi di Bali bertolak belakang dengan pencitraan itu. Tanah-tanah tepi pantai, pinggiran sungai, tepi jurang nyaris ludes disulap jadi hotel, restaurant, villa dan bungalow. Kawasan jalur hijau dan persawahan berubah jadi bangunan ruko (rumah toko), perumahan dan kafe.
Di kawasan kota, seperti Denpasar dan Kuta, kemacetan semakin memprihatinkan. Jalan-jalan yang sempit tak mampu menampung jumlah kendaraan yang makin membludak. Kemacetan makin diperparah dengan proyek-proyek perbaikan pipa air, kabel, saluran limbah, serta kerusakan jalan. Pasar rakyat berhadapan dengan hypermarket, warung-warung bersaing dengan Circle K, MiniMart. Sampah plastik, limbah rumah tangga, pabrik dan hotel mencemari saluran-saluran irigasi, sungai-sungai dan pantai.
Dalam bidang sosial, budaya, agama juga terjadi kegoncangan. Pratima dan benda sakral di sejumlah Pura dicuri, justru oleh orang Bali sendiri, dan dijual sebagai barang antik. Persoalan batas desa/banjar, rebutan tanah kuburan, sengketa tanah pelaba pura, rebutan lahan parkir, sanksi adat yang melanggar HAM, polemik tata ruang dan aturan ketinggian bangunan, pergolakan partai politik, korupsi, keculasan pejabat pemerintah, seringkali menjadi berita hangat di media massa. Bahkan, tak jarang, persoalan-persoalan ini menimbulkan korban jiwa dan harta benda.
Begitu pula dengan bidang kesenian. Batas antara sakral dan profan semakin tipis. Ritual sakral dengan mudah dipermak untuk hiburan bagi para turis. Misalnya, ritual Makare-kare di Desa Tenganan, Karangasem, dijadikan daya tarik pariwisata dan dikemas dalam brosur yang memikat. Seniman-seniman tradisional dibayar murah, diangkut dengan truk layaknya sapi, dipentaskan di hotel-hotel berbintang. Penari-penari joged bumbung makin berani menampilkan atraksi vulgar, seperti bergoyang sambil mempertontonkan selangkangan. Semua bisa dikemas demi pariwisata. Demi pariwisata pula, Bali dieksploitasi habis-habisan.
Contoh-contoh di atas hanya sebagian kecil dari banyak persoalan dan kenyataan yang terjadi di Bali. Namun hingga kini di benak banyak orang, Bali masih tercitrakan sebagai Pulau Surga. Bahkan, citra itu telah melenakan orang Bali sendiri sehingga kurang peduli dengan berbagai persoalan yang menimpa tanah kelahirannya.
Bayak dan Lukisan “Sukawatian”
Ketidakpedulian, kurangnya sikap kritis terhadap Bali, telah merambah benak banyak perupa Bali. Pelukis-pelukis lulusan perguruan tinggi seni, misalnya, kebanyakan memilih jalan aman dan nyaman sebagai “pengerajin” lukisan. Sehingga karya-karya yang hanya mengejar keindahan, “made to order”, dan berbau turistik mendominasi seni rupa Bali. Karya-karya seperti ini turut andil mengekalkan kebohongan tentang Bali.
Di Bali, idealisme berkesenian menjadi “barang langka”. Tak mudah mencari perupa Bali yang peka terhadap berbagai persoalan yang menimpa Bali dan mengekspresikannya secara intens ke dalam karya. Kebanyakan dari mereka hanya sibuk dan asyik meladeni selera pasar. Sibuk mengorek estetika yang formalistik, namun melupakan eksplorasi gagasan dan konten karya. Pendek kata, mereka asyik masyuk masturbasi dengan estetika, dan melupakan berbagai persoalan yang bersliweran di depan hidungnya.
Di tengah ketidakpedulian perupa Bali terhadap persoalan-persoalan yang menimpa tanah kelahirannya, saya tertarik dengan proses berkesenian Made Muliana Bayak. Saya mengikuti sepak terjangnya sejak dia masih aktif di Klinik Seni Taxu. Banyak karyanya secara intens mengritisi persoalan-persoalan sosial di Bali, bahkan isu-isu yang bersifat global. Tidak hanya lewat media seni lukis, Bayak juga menumpahkan unek-uneknya melalui seni instalasi, object art, performance art, mural, dan musik rock. Bahkan, tak segan-segan dia berkolaborasi dengan para aktivis untuk menyuarakan opininya tentang berbagai persoalan dan isu yang berkembang, baik isu sosial, budaya, ekologi, kapitalisme, globalisasi.
Gagasan pameran tunggal Bayak kali ini didasari oleh kegelisahannya menyaksikan berbagai persoalan yang menimpa Bali. Persoalan yang muncul dari imbas dan ampas negatif industri pariwisata yang begitu didewa-dewakan di Bali. Termasuk pencitraan Bali sebagai Pulau Surga, yang hingga kini masih terus diproduksi dan dikekalkan melalui lukisan-lukisan “Sukawatian”.
Istilah “Sukawatian” dipakai untuk menyebut lukisan tiruan Mooi Indie yang banyak dijual di Pasar Seni Sukawati, sebuah pasar seni yang sangat legendaris di Bali. Lukisan jenis ini dengan mudah juga ditemui di Pasar Seni Guwang, toko oleh-oleh, dan artshop-artshop di objek-objek pariwisata di Bali. Lukisan turistik ini diproduksi secara massal, karena sangat diminati para wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Lukisan-lukisan ini menjadi benda kerajinan yang murah meriah, yang menggambarkan eksotisme Bali, terutama keindahan alam, seni budaya, dan perempuan telanjang dada.
Lukisan “Sukawatian” merupakan salah satu bentuk kebohongan. Kebohongan yang terus menerus dijejalkan ke dalam benak banyak orang, yang lama kelamaan dianggap sebagai suatu kenyataan. Lukisan-lukisan palsu ini atau jenis lukisan turistik lainnya memberi kesan seolah-olah tak ada persoalan gawat yang terjadi di Bali. Seolah alam Bali serba damai dan permai, seolah kehidupan sosial berlangsung bersahaja dan tentram, seolah seni budaya Bali paling eksotis, seolah masih bisa dijumpai gadis-gadis jelita telanjang dada di jalanan desa yang permai. Lukisan-lukisan ini hanya bentuk kecil dari produksi kebohongan yang lebih besar yang banyak terjadi di Bali.
Dalam proses mewujudkan gagasan pameran ini, Bayak membeli sejumlah lukisan tiruan Mooi Indie di Pasar Seni Sukawati. Kemudian, di atas lukisan-lukisan tiruan itu, Bayak menuangkan unek-uneknya, memberikan gambaran kenyataan dan permasalahan yang terjadi di Bali. Bayak membubuhkan kritik, sindiran, maupun gambaran ironis, di atas lukisan yang penuh kebohongan. Dalam proses ini terjadi dialektika antara kebohongan dan kenyataan, yang memunculkan gambaran kontradiktif atau paradoks.
Misalnya, di atas lukisan “Sukawatian” yang bertema Pura Ulun Danu, Bayak membubuhkan grafiti warna merah berbunyi “SOLD”. Atau, pada lukisan pemandangan alam, Bayak menambahkan dengan objek-objek ironis, seperti tembok batako, perumahan, gedung-gedung bertingkat, papan reklame jual tanah, dan sebagainya. Persoalan ketinggian bangunan selalu menjadi polemik hangat di Bali, seiring semakin terbatasnya lahan. Dan bukan tidak mungkin suatu saat bangunan-bangunan yang ketinggiannya melebihi 15 meter akan menjadi pemandangan yang dianggap wajar di Bali, seperti perumahan-perumahan yang mengikis tanah-tanah persawahan. Begitu pula halnya dengan jalan layang akan menjadi kenyataan, sebagai upaya mengatasi kemacetan. Tata ruang Bali semakin amburadul. Begitulah. Karya-karya Bayak berupaya “mengganggu” persepsi pemirsa, bahwa Bali mengandung banyak persoalan yang harus terus dikritisi bersama.
Pameran ini dipersiapkan hanya dalam waktu sekitar dua bulan. Dimulai dari proses diskusi intensif berkaitan dengan gagasan-gagasan Bayak, pengumpulan bahan, pengerjaan hingga display karya. Pameran ini tidaklah bertujuan untuk menampilkan kecakapan teknis maupun kecanggihan pencapaian estetika yang sudah stagnan. Dengan pernyataan lain, buat apa melukis perihal keindahan atau eksotisme jika lukisan semacam itu dengan mudah ditemui di pasar seni sebagai benda souvenir atau kerajinan? Jadi, pameran parodi ini dirancang untuk mewadahi “gagasan”, “suara” atau “opini” dalam menyikapi berbagai rupa persoalan yang menyeruak di Bali.
Target pameran ini tidak hanya menampilkan opini di atas lukisan yang berbau kebohongan. Melainkan juga sebagai bentuk sindiran terhadap para “pelukis” yang memilih jalan aman sebagai “pengerajin” lukisan. Dalam tatanan yang lebih luas, pameran ini juga mengritisi kehidupan seni rupa di Bali yang kehilangan ruh gagasan dan idealisme, yang hanya tunduk pada selera pasar.
Karya-karya parodi ini mungkin membuat orang tertawa miris. Atau sebagian menganggapnya sebagai lelucon seperti melihat gambar kartun atau karikatur. Namun, Bayak telah berupaya mengritisi Bali dengan berbagai persoalannya. Ya, Bali telah banyak berubah. Ke depan, persoalan yang dihadapi Bali akan semakin bertambah kompleks. Orang Bali mesti terus mengritisi Bali. Sebab Bali bukan warisan, melainkan titipan untuk generasi mendatang.
*** *Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Rupa di ISI Denpasar.
Gubuk Terakhir 85x135cm oil paint on canvas, sukawati art market painting series 2011
land for sale 85x135cm oil on camvas, sukawati painting series 2011
Bali exotic 80x60cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2011
fair not free trade 85x135cm acrylic on canvas, sukawati art market painting series 2011 copy
landscape 85x135cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2011
muda mudi trendy di Bali 70x90cm acrylic ob canvas, sukawati painting series 2011
rain of investment I 85x135cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2012
rain of investment II 85x135cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2012
sold out 85x135cm oil on canvas, sukawati painting series 2011
trapped behind bars 60x80cm oil on canvas, sukawati painting series 2011
trapped behind bars 60x80cm oil on canvas, sukawati painting series 2011
flying pig 90x50x30cm kinetic mixed media
berhala-dunia-ketiga-2010-mixed-found object
the souond of penggorengan 2 variable size mixed media instalation 2010
SAJAK PULAU BALI
Sebab percaya akan keampuhan industri
dan yakin bisa memupuk modal nasional
dari kesenian dan keindahan alam,
maka Bali menjadi obyek pariwisata. Betapapun :
tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
Bali harus dibuka untuk pariwisata.
Sebab :
pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
dan maskapai penerbangan harus berjalan.
Harus ada orang-orang untuk diangkut.
Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.
Dan waktu senggang manusia,
serta masa berlibur untuk keluarga,
harus bisa direbut oleh maskapai
untuk diindustrikan.
Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.
Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
di muka perkemahan kaum Badui,
di sisi mana pun yang tak terduga,
lebih mendadak dari mimpi,
merupakan kejutan kebudayaan.
Inilah satu kekuasaan baru.
Begitu cepat hingga kita terkesiap.
Begitu lihai sehingga kita terkesima.
Dan sementara kita bengong,
pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,
membawa bentuk kekuatan modalnya :
lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”,
jalan raya, dan para pelancong.
“Oh, look, honey – dear !
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
Fantastic ! Kita harus memotretnya !
…………………………..
Awas ! Jangan dijabat tangannya !
senyum saja and say hello.
You see, tangannya kotor
Siapa tahu ada telor cacing di situ.
…………………….
My God, alangkah murninya mereka.
Ia tidak menutupi teteknya !
Look, John, ini benar-benar tetek.
Lihat yang ini ! O, sempurna !
Mereka bebas dan spontan.
Aku ingin seperti mereka…..
Eh, maksudku…..
Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.
Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
Look, now, John, jangan cemberut !
Berdirilah di sampingnya,
aku potret di sini.
Ah ! Fabolous !”
Dan Bank Dunia
selalu tertarik membantu negara miskin
untuk membuat proyek raksasa.
Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.
Dan kemajuan kita
adalah kemajuan budak
atau kemajuan penyalur dan pemakai.
Maka di Bali
hotel-hotel pribumi bangkrut
digencet oleh packaged tour.
Kebudayaan rakyat ternoda
digencet standar dagang internasional.
Tari-tarian bukan lagi satu mantra,
tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,
tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.
Hidup dikuasai kehendak manusia,
tanpa menyimak jalannya alam.
Kekuasaan kemauan manusia,
yang dilembagakan dengan kuat,
tidak mengacuhkan naluri ginjal,
hati, empedu, sungai, dan hutan.
Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan
Rendra
Pejambon, 23 Juni 1977.
Potret Pembangunan dalam Puisi
Categories: 's p r i t e s' 2013
Tags: bayak, I Made Muliana
Comments: No Comments.
































