Babies who cry excessively and have problems feeding and sleeping have a greater risk of serious behavioral problems later in life, say scientists.
By comparing data from 22 studies from 1987 to 2006 involving 17,000 children, they found a link between these issues and problems later in life. One in five babies has symptoms that could lead to conditions such as ADHD, anxiety, depression and aggressive behavior.
The research showed that a baby with more than one risk factor was even more likely to develop behavioral problems.
Experts warn parents not to be “overly alarmed” by these results. As we all know, crying in babies is normal, but some cry “excessively” after the age of three months for reasons other than colic. If a baby is not behaving like other babies it is probably worth discussing with a doctor.
Professor Dieter Wolke, from the University of Warwick, told the BBC: “It is about a 100% increase in risk, a doubling of risk of behavioral problems with excessive crying, sleeping and eating problems.”
The study cannot tell if issues as a baby cause behavioral problems later in life: they could be an early symptom of those later problems. But researchers findings certainly back up other recent studies about crying babies.
Professor Wolke said while there were treatments for problem crying, feeding and sleeping in babies, there was no research assessing their impact later in life.
He added: “If you could prevent behavioral problems with an early intervention, in a public health-sense it could be very important.”
Professor Mitch Blair, officer for health promotion at The Royal College of Paediatrics and Child Health, says parents are very good at knowing when something is wrong with their children and that the study “really reinforces the need for attention at an early stage to prevent issues later in childhood”.
Has anyone experienced this with their own children? Did you have an excessive crier after three months who later turned into a child who “acted out” more than others? If so, how did you/do you handle it?
The idea my art works are from subculture theme in wide point of view, I interested in non mainstreams way of thinking specially on my social and culture background as a Balinese and from that wide frame of idea I made it as an art works like paintings, installations, performance art, object art and underground music.
I believe in this world there’s no death line accept death it self, if we try the best we can in this sort life times with “weapons” that we have. I use arts as a “weapons” it mean if I am a visual artist, I will use my talent that I have to share with other as much as I can. If we are musicians, use your music to change the peoples point of view to start make a change. If we are a journalist, write the truth, express the real fact and criticism all the problems. So for all people with all their “weapons” we can make a change for better future for us and for our next generation.
As a part of the visual art scene here in Bali and Indonesia in common, I already have a long list of activity and lot of idea and project waiting to realize in the future.
As a member of the local underground band Geekssmile I express my self in a different way of arts, for me, as long as it purpose and content of my arts are visualize I will do any kind of possibility of art.
making painting process
making painting process
at the gig with my band geekssmile
photo session for our new album
I believe in this world there’s no death line accept death it self, if we try the best we can in this sort life times with “weapons” that we have. I use arts as a “weapons” it mean if I am a visual artist, I will use my talent that I have to share with other as much as I can. If we are musicians, use your music to change the peoples point of view to start make a change. If we are a journalist, write the truth, express the real fact and criticism all the problems. So for all people with all their “weapons” we can make a change for better future for us and for our next generation.
Sourced from http://madebayak.wordpress.com/about-my-arts/
my solo exhibition 2012 FRESH FROM THE OVEN (SEGAR DAN RENYAH DARI PENGGORENGAN)
my island of gods 120x140cm acrylic paint on canvas 2011
Dialektika Kebohongan dan Kenyataan
Oleh : Wayan ‘Jengki’ Sunarta *
Sejak jaman Hindia Belanda hingga kini, propaganda industri pariwisata Bali telah melahirkan banyak kebohongan. Kebohongan yang disusun dengan rekayasa yang sangat sistematis melalui berbagai pencitraan Bali, di antaranya jargon Pulau Surga, Surga Terakhir, Pulau Dewata. Kebohongan itu kemudian dilembagakan dan disebar oleh industri pariwisata berkonspirasi dengan perangkat-perangkat lain, seperti media massa, lembaga pemerintah, adat dan agama. Kebohongan itu pada akhirnya membangun persepsi, memanipulasi alam pikiran (kognisi), mempengaruhi perilaku, untuk responsif terhadap target-target yang diinginkan oleh industri pariwisata.
Propaganda industri pariwisata Bali yang dirintis sejak awal abad ke-19, telah mampu menyatukan persepsi masyarakat Bali untuk melestarikan dan mempertahankan citra Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata terpenting di dunia. Citra-citra Bali yang Mooi terus menerus dipelihara di benak banyak orang. Namun, ironisnya, pada saat bersamaan terjadi perusakan dan penghancuran yang sistematis terhadap elemen-elemen yang dijual oleh industri pariwisata itu sendiri, seperti perusakan terhadap seni dan budaya, serta penghancuran alam.
Kebohongan dan kenyataan saling tumpang tindih, merebut ruang kesadaran kita. Citra Bali sebagai Pulau Surga, misalnya, merupakan suatu bentuk kebohongan yang terus dipelihara. Sementara itu, kenyataan yang terjadi di Bali bertolak belakang dengan pencitraan itu. Tanah-tanah tepi pantai, pinggiran sungai, tepi jurang nyaris ludes disulap jadi hotel, restaurant, villa dan bungalow. Kawasan jalur hijau dan persawahan berubah jadi bangunan ruko (rumah toko), perumahan dan kafe.
Di kawasan kota, seperti Denpasar dan Kuta, kemacetan semakin memprihatinkan. Jalan-jalan yang sempit tak mampu menampung jumlah kendaraan yang makin membludak. Kemacetan makin diperparah dengan proyek-proyek perbaikan pipa air, kabel, saluran limbah, serta kerusakan jalan. Pasar rakyat berhadapan dengan hypermarket, warung-warung bersaing dengan Circle K, MiniMart. Sampah plastik, limbah rumah tangga, pabrik dan hotel mencemari saluran-saluran irigasi, sungai-sungai dan pantai.
Dalam bidang sosial, budaya, agama juga terjadi kegoncangan. Pratima dan benda sakral di sejumlah Pura dicuri, justru oleh orang Bali sendiri, dan dijual sebagai barang antik. Persoalan batas desa/banjar, rebutan tanah kuburan, sengketa tanah pelaba pura, rebutan lahan parkir, sanksi adat yang melanggar HAM, polemik tata ruang dan aturan ketinggian bangunan, pergolakan partai politik, korupsi, keculasan pejabat pemerintah, seringkali menjadi berita hangat di media massa. Bahkan, tak jarang, persoalan-persoalan ini menimbulkan korban jiwa dan harta benda.
Begitu pula dengan bidang kesenian. Batas antara sakral dan profan semakin tipis. Ritual sakral dengan mudah dipermak untuk hiburan bagi para turis. Misalnya, ritual Makare-kare di Desa Tenganan, Karangasem, dijadikan daya tarik pariwisata dan dikemas dalam brosur yang memikat. Seniman-seniman tradisional dibayar murah, diangkut dengan truk layaknya sapi, dipentaskan di hotel-hotel berbintang. Penari-penari joged bumbung makin berani menampilkan atraksi vulgar, seperti bergoyang sambil mempertontonkan selangkangan. Semua bisa dikemas demi pariwisata. Demi pariwisata pula, Bali dieksploitasi habis-habisan.
Contoh-contoh di atas hanya sebagian kecil dari banyak persoalan dan kenyataan yang terjadi di Bali. Namun hingga kini di benak banyak orang, Bali masih tercitrakan sebagai Pulau Surga. Bahkan, citra itu telah melenakan orang Bali sendiri sehingga kurang peduli dengan berbagai persoalan yang menimpa tanah kelahirannya.
Bayak dan Lukisan “Sukawatian”
Ketidakpedulian, kurangnya sikap kritis terhadap Bali, telah merambah benak banyak perupa Bali. Pelukis-pelukis lulusan perguruan tinggi seni, misalnya, kebanyakan memilih jalan aman dan nyaman sebagai “pengerajin” lukisan. Sehingga karya-karya yang hanya mengejar keindahan, “made to order”, dan berbau turistik mendominasi seni rupa Bali. Karya-karya seperti ini turut andil mengekalkan kebohongan tentang Bali.
Di Bali, idealisme berkesenian menjadi “barang langka”. Tak mudah mencari perupa Bali yang peka terhadap berbagai persoalan yang menimpa Bali dan mengekspresikannya secara intens ke dalam karya. Kebanyakan dari mereka hanya sibuk dan asyik meladeni selera pasar. Sibuk mengorek estetika yang formalistik, namun melupakan eksplorasi gagasan dan konten karya. Pendek kata, mereka asyik masyuk masturbasi dengan estetika, dan melupakan berbagai persoalan yang bersliweran di depan hidungnya.
Di tengah ketidakpedulian perupa Bali terhadap persoalan-persoalan yang menimpa tanah kelahirannya, saya tertarik dengan proses berkesenian Made Muliana Bayak. Saya mengikuti sepak terjangnya sejak dia masih aktif di Klinik Seni Taxu. Banyak karyanya secara intens mengritisi persoalan-persoalan sosial di Bali, bahkan isu-isu yang bersifat global. Tidak hanya lewat media seni lukis, Bayak juga menumpahkan unek-uneknya melalui seni instalasi, object art, performance art, mural, dan musik rock. Bahkan, tak segan-segan dia berkolaborasi dengan para aktivis untuk menyuarakan opininya tentang berbagai persoalan dan isu yang berkembang, baik isu sosial, budaya, ekologi, kapitalisme, globalisasi.
Gagasan pameran tunggal Bayak kali ini didasari oleh kegelisahannya menyaksikan berbagai persoalan yang menimpa Bali. Persoalan yang muncul dari imbas dan ampas negatif industri pariwisata yang begitu didewa-dewakan di Bali. Termasuk pencitraan Bali sebagai Pulau Surga, yang hingga kini masih terus diproduksi dan dikekalkan melalui lukisan-lukisan “Sukawatian”.
Istilah “Sukawatian” dipakai untuk menyebut lukisan tiruan Mooi Indie yang banyak dijual di Pasar Seni Sukawati, sebuah pasar seni yang sangat legendaris di Bali. Lukisan jenis ini dengan mudah juga ditemui di Pasar Seni Guwang, toko oleh-oleh, dan artshop-artshop di objek-objek pariwisata di Bali. Lukisan turistik ini diproduksi secara massal, karena sangat diminati para wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Lukisan-lukisan ini menjadi benda kerajinan yang murah meriah, yang menggambarkan eksotisme Bali, terutama keindahan alam, seni budaya, dan perempuan telanjang dada.
Lukisan “Sukawatian” merupakan salah satu bentuk kebohongan. Kebohongan yang terus menerus dijejalkan ke dalam benak banyak orang, yang lama kelamaan dianggap sebagai suatu kenyataan. Lukisan-lukisan palsu ini atau jenis lukisan turistik lainnya memberi kesan seolah-olah tak ada persoalan gawat yang terjadi di Bali. Seolah alam Bali serba damai dan permai, seolah kehidupan sosial berlangsung bersahaja dan tentram, seolah seni budaya Bali paling eksotis, seolah masih bisa dijumpai gadis-gadis jelita telanjang dada di jalanan desa yang permai. Lukisan-lukisan ini hanya bentuk kecil dari produksi kebohongan yang lebih besar yang banyak terjadi di Bali.
Dalam proses mewujudkan gagasan pameran ini, Bayak membeli sejumlah lukisan tiruan Mooi Indie di Pasar Seni Sukawati. Kemudian, di atas lukisan-lukisan tiruan itu, Bayak menuangkan unek-uneknya, memberikan gambaran kenyataan dan permasalahan yang terjadi di Bali. Bayak membubuhkan kritik, sindiran, maupun gambaran ironis, di atas lukisan yang penuh kebohongan. Dalam proses ini terjadi dialektika antara kebohongan dan kenyataan, yang memunculkan gambaran kontradiktif atau paradoks.
Misalnya, di atas lukisan “Sukawatian” yang bertema Pura Ulun Danu, Bayak membubuhkan grafiti warna merah berbunyi “SOLD”. Atau, pada lukisan pemandangan alam, Bayak menambahkan dengan objek-objek ironis, seperti tembok batako, perumahan, gedung-gedung bertingkat, papan reklame jual tanah, dan sebagainya. Persoalan ketinggian bangunan selalu menjadi polemik hangat di Bali, seiring semakin terbatasnya lahan. Dan bukan tidak mungkin suatu saat bangunan-bangunan yang ketinggiannya melebihi 15 meter akan menjadi pemandangan yang dianggap wajar di Bali, seperti perumahan-perumahan yang mengikis tanah-tanah persawahan. Begitu pula halnya dengan jalan layang akan menjadi kenyataan, sebagai upaya mengatasi kemacetan. Tata ruang Bali semakin amburadul. Begitulah. Karya-karya Bayak berupaya “mengganggu” persepsi pemirsa, bahwa Bali mengandung banyak persoalan yang harus terus dikritisi bersama.
Pameran ini dipersiapkan hanya dalam waktu sekitar dua bulan. Dimulai dari proses diskusi intensif berkaitan dengan gagasan-gagasan Bayak, pengumpulan bahan, pengerjaan hingga display karya. Pameran ini tidaklah bertujuan untuk menampilkan kecakapan teknis maupun kecanggihan pencapaian estetika yang sudah stagnan. Dengan pernyataan lain, buat apa melukis perihal keindahan atau eksotisme jika lukisan semacam itu dengan mudah ditemui di pasar seni sebagai benda souvenir atau kerajinan? Jadi, pameran parodi ini dirancang untuk mewadahi “gagasan”, “suara” atau “opini” dalam menyikapi berbagai rupa persoalan yang menyeruak di Bali.
Target pameran ini tidak hanya menampilkan opini di atas lukisan yang berbau kebohongan. Melainkan juga sebagai bentuk sindiran terhadap para “pelukis” yang memilih jalan aman sebagai “pengerajin” lukisan. Dalam tatanan yang lebih luas, pameran ini juga mengritisi kehidupan seni rupa di Bali yang kehilangan ruh gagasan dan idealisme, yang hanya tunduk pada selera pasar.
Karya-karya parodi ini mungkin membuat orang tertawa miris. Atau sebagian menganggapnya sebagai lelucon seperti melihat gambar kartun atau karikatur. Namun, Bayak telah berupaya mengritisi Bali dengan berbagai persoalannya. Ya, Bali telah banyak berubah. Ke depan, persoalan yang dihadapi Bali akan semakin bertambah kompleks. Orang Bali mesti terus mengritisi Bali. Sebab Bali bukan warisan, melainkan titipan untuk generasi mendatang.
*** *Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Rupa di ISI Denpasar.
Gubuk Terakhir 85x135cm oil paint on canvas, sukawati art market painting series 2011
land for sale 85x135cm oil on camvas, sukawati painting series 2011
Bali exotic 80x60cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2011
fair not free trade 85x135cm acrylic on canvas, sukawati art market painting series 2011 copy
landscape 85x135cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2011
muda mudi trendy di Bali 70x90cm acrylic ob canvas, sukawati painting series 2011
rain of investment I 85x135cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2012
rain of investment II 85x135cm oil on canvas, Sukawati art market painting series 2012
sold out 85x135cm oil on canvas, sukawati painting series 2011
trapped behind bars 60x80cm oil on canvas, sukawati painting series 2011
trapped behind bars 60x80cm oil on canvas, sukawati painting series 2011
flying pig 90x50x30cm kinetic mixed media
berhala-dunia-ketiga-2010-mixed-found object
the souond of penggorengan 2 variable size mixed media instalation 2010
SAJAK PULAU BALI
Sebab percaya akan keampuhan industri
dan yakin bisa memupuk modal nasional
dari kesenian dan keindahan alam,
maka Bali menjadi obyek pariwisata. Betapapun :
tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
Bali harus dibuka untuk pariwisata.
Sebab :
pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
dan maskapai penerbangan harus berjalan.
Harus ada orang-orang untuk diangkut.
Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.
Dan waktu senggang manusia,
serta masa berlibur untuk keluarga,
harus bisa direbut oleh maskapai
untuk diindustrikan.
Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.
Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
di muka perkemahan kaum Badui,
di sisi mana pun yang tak terduga,
lebih mendadak dari mimpi,
merupakan kejutan kebudayaan.
Inilah satu kekuasaan baru.
Begitu cepat hingga kita terkesiap.
Begitu lihai sehingga kita terkesima.
Dan sementara kita bengong,
pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,
membawa bentuk kekuatan modalnya :
lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”,
jalan raya, dan para pelancong.
“Oh, look, honey – dear !
Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera. Fantastic ! Kita harus memotretnya !
…………………………..
Awas ! Jangan dijabat tangannya !
senyum saja and say hello. You see, tangannya kotor
Siapa tahu ada telor cacing di situ.
……………………. My God, alangkah murninya mereka.
Ia tidak menutupi teteknya ! Look, John, ini benar-benar tetek.
Lihat yang ini ! O, sempurna !
Mereka bebas dan spontan.
Aku ingin seperti mereka…..
Eh, maksudku….. Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.
Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha. Look, now, John, jangan cemberut !
Berdirilah di sampingnya,
aku potret di sini.
Ah ! Fabolous !”
Dan Bank Dunia
selalu tertarik membantu negara miskin
untuk membuat proyek raksasa.
Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.
Dan kemajuan kita
adalah kemajuan budak
atau kemajuan penyalur dan pemakai.
Maka di Bali
hotel-hotel pribumi bangkrut
digencet oleh packaged tour.
Kebudayaan rakyat ternoda
digencet standar dagang internasional.
Tari-tarian bukan lagi satu mantra,
tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,
tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.
Hidup dikuasai kehendak manusia,
tanpa menyimak jalannya alam.
Kekuasaan kemauan manusia,
yang dilembagakan dengan kuat,
tidak mengacuhkan naluri ginjal,
hati, empedu, sungai, dan hutan.
Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan
Rendra
Pejambon, 23 Juni 1977.
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sourced from http://madebayak.wordpress.com/2012/01/14/my-solo-exhibition-2012-fresh-from-the-oven-segar-dan-renyah-dari-penggorengan/
Challenge him, and pounding of thoughtful passion and vision will tremble your brain out.You could hear the echoes of anxiety.
He had seen the world and to work back in his homeland, turbulence of talent and experiences incarnated into a pursuit of spheres to play with. And there was not.
When he heard about ‘sprites’, he said undoubtedly ” I am in..!
He is a SoundArchitect I am looking for.
And what is SoundArchitect? We will walk to found it out.
A Short Message Service received last week from Delly of Matamera:
“Pak, Fee untuk bapak dari Bali Creative Festival apakah mau ditransfer atau dikirim cash ke kantor bapak?
Whaaaattt???
Fee? Fees?
Kind of panic storming my head. Whaattt?
Then I shared in SMS this ‘stunning’ news right away to the rest of the GUYS behind the Creative Space Designers, Iwan Sastrawan, I Putu ‘click’ Suantara and his Dina, Dea A. Widyaevan.
Bunched of reactions pops up.
Bla bla bla……… Bli bli bli…..i… Blu Blu bluu……… Blo Blo Blooo……….Ble Ble Blee………..
Ups. Dilemmatic…..
A system of ‘democrazy’ must be enforced!
We all agreed to meet up and discuss on Wednesday night, 18th of January 2012. In the meantime, I asked Delly to send it to my office. The total fees, Rp. 11.000.000 (Eleven Million Rupiahs) and here is the tempting images and I emailed it to the guys.
One reaction I got “You weird..”
Same hair color covered different thought.
I express my thought to resolve the dilemma, from some many possibilities aroused in our materialism head.
Shopping?? Traveling?? Donating to the Orphan?? Change my mobile?? Karaoke??
“I am going to build an ART Project later in 2013 bla bla bla…., to that I would like to propose to you, we could consider this ‘fee’ as our Initial contribution (penggarus- balinese word) to bring the Project to fruition”
My words trigger silence for a little while. Moment of paused. . . . . . .
Dea broke up the silence. To her, Its a reward she deserved.
Demonstrated the process of ‘democrazy’, finally, from 11 million become 9 million. The number is 9.
Observed deeper into his works in 14 years, expressed graphics of Conscious fluctuation, projected his reaction to challenges given by the task. His Artistic Talent and Vision could bring us deeply down to the maturity of his thought, sense sensitivity, technic and skill. Challenges which derived his subconscious and conscious power to work in balance, capturing in a soft harmony.
Simple but not less, he has arrived in sphere of Taksu.
Her famous question after introduced myself on the phone, “What is Yoka Sara?”
Yoka Sara is name of a Person, I said.
Bla…Bla…Bla…, and an encounter appointment is set right away, in a ‘weird place’ (to me).
Exploring and discovering The “Youth ART Communities ‘in Bali through Virtual world is one of the easiest option in retrieving informations, and to build a communication always another issue even in a circumstance of nowadays social networks available in virtual world could not become as a cross path of Artistic Diversity. Sometimes it only become a contest of Popularity shown and recorded in statistic, a comfortable world of bilaterally communication, created a safe faithful Virtual Dome.
In the Real World, A huge gap in Artistic Generations getting wider and it become skeptically an impossible, worthless and effortless to narrow the distance down in so many ways. Each generations lived comfortably in their own safe zone, and the world seem so small and smaller to the end of their days.
Intermingling in the Diversity almost Unspoken, even it is not Taboo.
From HOOK UP to INTERMINGLING is a process, to break up the Dome, to enter Graciously the NEW WINDOWS of different Real world.
A beginning, to build The Matrix of Unlimited Pursuit….
above: the place of encounter to the YOUTH
hook up, hookup:
In the title essay of his book Hooking Up, Tom Wolfe wrote that to anyone over the age of 9 in the year2000, the term always referred to a sexual experience, but that the “nature and extent” of the experiencevaried widely. Several twenty-something sources report that the imprecision of the term is precisely the point. From California: “It makes space for everything from what another generation might have called making out right up to full-on intercourse—that ambiguity preserves a modicum of privacy in a largelyprivacy-free discourse. You can tell people you’ve hooked up with someone without giving away all thewho-did-what-to-whom.” A hookup is a casual encounter, no history, no obligations, but it can lead to something more serious. From New York: “My relationship with my girlfriend began with a hookup, since we’d never met before that night, and developed into a relationship. That didn’t retrospectively make it not a hookup.”
Intermingling:
Verb
1.
intermingle - combine into one; “blend the nuts and raisins together”; “he blends in with the crowd”; “We don’t intermingle much”
Permaculture is an approach to designing human settlements and agricultural systems that is modeled on the relationships found in nature.[citation needed] It is based on the ecology of how things interrelate[vague] rather than on the strictly biological concerns that form the foundation of modern agriculture. Permaculture aims to create stable, productive systems that provide for human needs; it’s a system of design where each element supports and feeds other elements, ultimately aiming at systems that are virtually self-sustaining and into which humans fit as an integral part.
Permaculture as a systematic method was developed by AustraliansBill Mollison and David Holmgren during the 1970s. The word “permaculture” originally referred to “permanent agriculture”, but was expanded to also stand for “permanent culture” as it was seen that social aspects were integral to a truly sustainable system. Mollison has described permaculture as “a philosophy of working with, rather than against nature; of protracted and thoughtful observation rather than protracted and thoughtless labor; and of looking at plants and animals in all their functions, rather than treating any area as a single project system.“[1]
Permaculture draws from several other disciplines including organic farming, agroforestry, sustainable development, and applied ecology. “The primary agenda of the movement has been to assist people to become more self reliant through the design and development of productive and sustainable gardens and farms. The design principles which are the conceptual foundation of permaculture were derived from the science of systems ecology and study of pre-industrial examples of sustainable land use.“ [2]
5 visitors online now 0 guests, 5 bots, 0 members Max visitors today: 6 at 03:41 pm HKT This month: 7 at 02-04-2012 06:27 pm HKT This year: 7 at 02-04-2012 06:27 pm HKT All time: 153 at 12-13-2010 06:04 pm HKT