2-prolog1

wara-urwasi

 

 

 

 

 

Awal

inilah lembar sebuah kehidupan yang ingin kukisah padamu

sejarah sederhana tentang penciptaan

berikut deru liku dan harapan

jika bisa, ingin kucerita saja lewat simfoni,  namun ia tak cukup menafsir

kekuatan, ketekunan pun keindahan para penciptaku kala itu

yang gairah bengalnya anugerahiku untuk lahir

betapa kini aku bagai gadis molek cantik

berdiri di panggung dunia

bukan hanya kumpulan tanah dan batu

memecah pelan di bawah matari terik

aku begitu hidup,

karena pikir manusia hidupkanku

hingga tercipta tarian ini dalam diam

maka mari berjalan,

di antara keteguhan musim padi, hingga kedalaman hutan muda

beserta kebaikan alam

sebab kubangun rumah ini penuh puisi,

dimana kau dapat bertandang

dimana ku bisa menebar sayang

bukalah mata dan pikirmu

aku mengundangmu

3-an-empty-land1

Semesta Padi

mari berjalan di hangat canggu tua,

dimana angin berbau padi dan ombak

musim kehangatan dari barat telah datang kemari,

membawa kapal dan nahkodanya berlabuh di perutku

hinggap di rasa, kami bagai putih salju

berbaring di bawah bintang dalam kubah raksasa ini

kemudian saling menghidupi, agar panjang usia masing-masing

sang tani adalah pangeranku,

sementara langit menjagai desah keringatnya.

sesaat lalu bayang-bayang membangunkanku dari semesta

sungai benamkanku makin ke dalam

dedaunan lingkarkan akarnya ke tubuhku

Ia, sang ibu membaptisku di kelahiran ulang

sebab telah cukup tugasku kala ini

yang dijanjikan akan datang, menjalani takdirnya di tanahku

kala itu, penciptaan telah diijinkan.

4-song-of-earth1

Lagu Anak Bumi

malam ini perkenankan kucium jari Mu

sebab ibu bilang, Kau yang melahirkanku lewat rahimnya.

tubuhku seperti tiang, dengan bendera sebagai jubahnya.

ibu bilang, dengan ini manusia menghormatiku

 

malam ini izinkan aku memujaMu, seperti moyangku dulu berlutut

pada matahari atau keabadian batu.

maka kutengadahkan langit, hingga ku jauh dari kelaparan senja.

tak ingin mati dengan wajah gesang.


 

Mimpi Tuan Tanah

aku ingin tidur, sedikit

sebab lelah menjadi permata

di dunia tanpa lengang

dan tak habis berpikir lebih pintar

 

agar  saat aku bangun nantinya

ada  suatu kehendak

terbentuk dari matahari dan

bening keinginan di kepalaku

 

hingga kuacungkan tanganku

ke arah pemilik tanah

yang ingin kumiliki

sisi yang demikian terang

yang paginya ditempeli embun

lalu perlahan menghangat

 

yang aku bisa tidur dalam kabin rumputnya

sembari tetap menghitung bintang-bintang

6-the-arrival1

Kedatangan

aku bisa mendengar langkahmu, teman

di jalan setapak yang kutempa

untuk mereka, anak-anak yang sering berdoa padaku

 aku tahu segala rahasia

dan yang tengah kau cari

 

kusentuh kau dengan nafasku,

kuhadirkan ketelanjangan dan kejujuran

matahari yang hangat, dan malam yang beku

segenap tarian di keluasan ruang

 telah terbacakah?

 

lalu kutangkap matamu

hingga kita bersetubuh sejenak

dalam kerapuhan kuberi kekuatan

 telah yakinkah kau?

 

maka kutetapkan saja, untuk mengkutimu

mempercayakan arah angin dan matahari, dan semua hidangan ini

 

kuberikan padamu, kesempatan

 

7-the-meaning-of-man

8-the-young-seaman

9-sketch-1a1

Sketsa 1: Titik Mula

hanya pria yang teguh yang mampu,

yang pikirnya begitu muda dalam kebijaksanaan usia

ia temanku, yang kupercaya untuk mencipta

hingga hatiku berdegup-degup dibuatnya

apa yang kan datang, dalam kelahiranku berikutnya?

dalam titik, garis dan bidang-bidang

yang berkitaran

9-sketch-11

“satu garis kutoreh jadi aksis, antara pandangku dengan keberadaanmu

dua lengkung bertemu membuka ruang dari kedatangan

hingga kau lihat keluasan hutan muda, yang merentang tangannya padamu

bawa kakimu melangkah ke lingkar tengah, ruang pertemuan

dua garis melingkupi pandangmu

mengantarmu pada sekuen harmoni

seperti lajur dari bawah kakimu ke arah tingginya pikir

karena begitu luas dan dalamnya sekeliling

satu garis untuk menikmatimu

dari tempat yang semestinya

lalu biarkan keseluruhannya tersembunyi

agar satu ia dengan kebesaranNya”

 

Sketsa  2: Benang Merah

bagaimana kabarmu, kawan?

lihat aku masih menari disini

 

aku menghentak-hentak mengikut gerakmu

mengalirlah, hingga tak terbendung dan tumpah

 

bisa kulihat perjalanan itu

yang membingkai keadaan

ke dalam ruang

10-sketch-22

bisa kurasa, naskah kejadian yang kau lukis di perutku

jembatan pengantar menuju kelegaan

dan kenyamanan rumah

dimana satu keluarga dan teman bisa bercerita

di bawah langit,

dimana kau biarkanku jadi kubah dan selimut

yang dipandangi dan memeluk mereka

 

ruang tak berdinding, hanya berbingkai

ruang yang mendongak langit, namun menghormati

dimana bisa kutarikan bayang-bayang cahaya

 

rumahku terbuka untuk melihat

rumahku terbuka untuk mendengar

rasa-rasakanlah kebebasan pikir


Sketsa 3: Fragmen Ruang

aku tumbuh di musim yang tropik

yang hangat gemerlap

di tengah gerimis dan lagu anak

sungguh kubutuh ruang tidur beratap

10-sketch-2a1

maka ia kawanku ini, menari lagi

lewat jarinya, menghadirkan wujud

membuatku tergambarkan di mata

satu untuk ungkapan selamat datang

yang mengantarmu ke rumah, mempertemukan cahaya

satu yang membingkai pandangmu

menggoda kagum di antara kerendahatian,

merefleksikan semua ruang di sekeliling

dan ruang-ruang kecil

tempatmu berjalan lewat

11-sketch-31

ada anjungan pengantar tidur

katanya sembari mimpi,

mari jujur pada nurani

mari berdekap dengan diri

sembari mengagumi ketelanjanganmu

 

lalu bertemulah klimaks

tempat menghening sesungguhnya

 

demikian kawanku mengabadikan segala khayal,

hingga sang bayi terlahir

pun jadi milik semesta

 

12-instalasi-3da

Instalasi Tiga Dimensi

bentuk-bentuk hadir

mulai bersama warna dan memberi rasa

tiada lagi mencari, hanya melengkapi

agar ia menjadi sosok, bukan goresan

 

aku bermain bersama kabel-kabel digital

alam artifisial

bersama matahari dan ukuran waktu

mencoba jadikannya kekal

 

sebelum adanya batasan eksplorasi

mencari cara membangun semuanya

dari dasar,

rumahku telah berdiri

hingga kau bisa melihatnya dari segala pandang

when imagination is free,
knowledge and know how will follow

12-instalasi-3db

Spektrum Melodi

13-color-scheme1

mari nyanyi tentang pelangi

yang keping-kepingnya ingin kupetik,

kutanam di rumah, memainkannya dalam liturgy

 

dan bila kupilah-pilah

mungkin yang menghangatkan, atau membuat sejuk

yang kekuatannya merefleksi teka-teki alam

matahari siang bulan malam, jatuh di tubuhnya

sebab warna mereka adalah energi

yang menguasaimu atas ruang

bahkan menyelimuti pikir

ia pun menjadi gairah akan tanah, air, udara

yang menentukan kehendakmu, seketika

 

maka kini biarlah warna-warna ini

yang mengatasi binari

 

biar menyatu ia di atas semua bidang

hingga kau tersenyum penuh pesona

saat sinarnya jatuh di pantul cahaya

pada segala musim, segala ruang

14-the-elementa

Elemen Penciptaan

yang menjadi tiang-tiang itu, temanku

adalah kayu tua

yang menahan beban untuk kita

dan menanda cuaca di tanah ini

 

batu-batu itu

berasal dari kedalaman

jadi biar warna dan rasanya saja yang bicara padamu

karena bila kupaksakan gambaranku

maka ia tak kan sampai ke hatimu

 

lalu ditiap jendela dan pintu

kugantungkan dinding yang bening

biar alam bisa melukis di kanvasnya

melembutkan mata kita penuh suka

 

di tempatmu menginjak,

kuberi satu yang lembut

dan berkilau, hingga kau rasa berjalan di pualam

tiada derak bergema

 

hingga kau dapat terlupa

tengah di bawah langit

atau berhangat dalam ruangkah,

 

mari sentuh tiap fragmen tubuhku, teman

meliuk bagai relief warna yang dicipta artisku

 

Sketsa  4: Jalan Menuju

aku membuat gambar ini

agar kita bisa membangunnya

tingkat demi tingkat

dan supaya lakon yang lain

bisa mulai menaruh hitungannya

lewat harga dan kubik

jadi kubuat hingga sekecil-kecilnya,

sungguh, demi pekerja itu

menjembatani gagasan dan tindakan

kita berjalan, mengukur panjang

atau mendaki mencari tinggi

lalu nanti kubuat drama,

mengatur fragmen masing-masing

sebab bahwa semua harus tercapai, dan terlihat

adalah untuk kemudahan

hingga rancangan tersajikan, dan terbaca mereka

16-song-of-workersa

17-the-next-meeting

18-the-construction

18-the-constructiona

18-the-constructionb

19-pathway

20-bridge-to-inner-house

21-wine-dine

22-the-shadows

22-the-shadowsa

 

 

 

23-bedtime-stories

2 Responses to “Ode for The TRA, by Wara Urwasi”

  1. harmony_rimba
    24 April 2009 at 23:34 #

    THANKS and THANKS AGAIN 4 published our works on your blog.
    “serupa kelahiran, kebebasan menjadi sepasang sayap untuk terbang meraih bintang imajinasi tanpa batas, sekaligus akar yang mengantar kita kembali ke rumah.”

  2. Administrator
    25 April 2009 at 00:40 #

    So hard for me to find the right words………………, just be always my energy, for I can reflected back to you.


2 visitors online now
2 guests, 0 members
Max visitors today: 5 at 03:53 am GMT-8
This month: 26 at 11-08-2009 05:26 pm GMT-8
This year: 26 at 10-17-2009 10:13 pm GMT-8
All time: 26 at 10-17-2009 10:13 pm GMT-8